Terima kasih atas kunjungan dan apresiasi Anda. Saya harap bertemu kembali dilain waktu

Senin, 14 April 2008

cocer Narasi Musafir Gila ( edisi 1 )


Album Puisi Arsyad Indradi

Narasi Musafir Gila

Penerbit :

Kelompok Studi Sastra Banjarbaru

Kalimantan Selatan



edisi 2

Narasi Ayat Batu

Kubelah ayatayat batumu di kulminasi bukit

Yang terhampar di sajadahku

Kujatuhkan di tebingtebing lautmu

Cuma gemuruh ombak dalam takbirku

Angin mana di gurungurunmu beribu kafilah

Dan beribu unta yang tersesat di tepitepi

hutanmu

Dan bersafsaf di oasis bumimu yang letih

Kuseru namamu tak hentihenti

Di ruasruas jari tanganku

Yang gemetar dan berdarah

Tumpahlah semesta langit

Di mata anak Adam yang sujud di kakimu

Banjarbaru, 2000

Narasi Pohon Senja

Kukalungkan lampulampu di ranjangmu

Lalu kujadikan pengantin

Lalu kunikahi daunmu kepompong birahi

dendam

Lahirlah kupukupuku

Betapa nikmat dalam dahaga

Menjelajah tubuhmu

Mencari rangkaian bunga

Jauh dalam lubuk jantungmu

Banjarbaru, 2000

Narasi Gairah Embun

Menjilati garisgaris permukaan tangan

Menggendong keranjang yang kita anyam

Setetesdemisetetes embun kita kumpulkan

Bertebaran dalam mazmurmazmur malam

Kita bersidekap dalam gumpalan warna angin

Membakar lipatandemilipatan tubuh fana

Mata mencari sesuatu yang pernah kita punya

Sebelum keburu surya bangkit dari mimpinya

Kunyah segala dedaunan dan akarakaran

Jadi serbuk hatinurani

Kucurkan ke piala kita tanpa sisa

Agar bebas dari perangkap dusta

Mulutmu wangi sarigading

Menyentuh gordengorden jendela

Tapi jangan kau buka

Sebentar lagi pagi beranjak tiba

Banjarbaru, 2000

edisi 3

Narasi Tanah Kelahiran

Dalam lindap lembayung senja

Kemana risalah burungburung putih

Tibatiba kau jatuhkan sebiji rambai

Seketika masasilamku terpanggang

di rerumpun bakau

Kau beri aku sampan

Riakdemiriak menyusuri uraturat nadi

Wajahmu sudah lain tapi begitu angkuh

Tumbuh rumahrumah batu

Orangorang tak pernah kukenal lagi

Dengan salam yang pernah kau ajarkan

Lihat ketika kau jatuhkan lagi sebiji

Tanganku kenapa begitu bodoh

memegang dayungmu

Banjarbaru, 2000

Narasi Burung

Kulepas burungburung

Ke awanawan serbuk masasilam

Sebab pepohonan yang kutanam

Menanggalkan dedaunan

Helaidemihelai namamu

Rebah ke bumi

Sepanjang khatulistiwa

Matahari berdarah

Menetes di bulubulunya

Yang putih

Maka jangan kau cari lagi

Siapa yang luka di antara kita

Jangan kau tanya lagi

Benih dalam rahimmu

Yang terbelah

Oleh bibirbibir kita sendiri

Dari peradaban yang hilang

Terbanglah membidik masadepan

Di hatinurani yang terbakar

Gumpalan rindudendam

Dan lepas dari ikatan

Banjarbaru, 2000

Kubaringkan Tubuhmu

Kubaringkan tubuhmu di sini

Sampai batas pertemuan kita

Tak usah kau hitung lagi

Harihari perjanjian dendam

Dari negeri jauh

Sebab berulangkali

Kubiarkan wajahmu cuma

Bayangbayang tak kumengerti

Melintasi setiap kutub

Dimana kita ingin membaca

Isyarat lengsernya senja

Maka jika kau cari

Gumam doadoaku

Jangan kau tanya lagi

Persinggahan ini

Banjarbaru,2000

edisi 4

Berangkat Pulang

Di atas batu langit kian kuning

Sungai di mana matamu mengaca

Ikanikan berenang di hatimu

Apakah mengukir jauh perjalanan

Ke kutub mana kita pulang

Entah berapa matahari

Telah lengser di sini

Dan entah berapa kali

Kau lahir kembali

Sepanjang tebing

Tak ubahnya bambubambu

Tak ubahnya fatamorgana

Kasidah burungburung senja

Melintasi persawangan

Memahami doadoaku yang panjang

Memahami keduakakiku

Di dusta dunia

Banjarbaru,2000

Zikir Senja

Tak terbaca lagi ayatayat

Yang Kau hamparkan sepanjang perjalanan

Menuju rumahMu

Tak mungkin kembali

Menangkap AlipLamMim dari pintu bumi

Kandang dombadomba yang lapar

Semakin jauh berjalan

Kucurigai langit

Menyembunyikan bintangbintangMu

BulanMu bahkan matahariMu

Kucurigai laut

Menyentuh kakiku

Buihbuih merajah pausMu yang kian punah

Jasadku untaunta

Rohku kafilahkafilah

Di gurungurun bukit Thursina

Kucurigai rumahMu lengang

Kucurigai mengapa Kau tunggu aku

Di Jabal Rahmah

Aku

Anak Adam

Yang tersesat di sajadahMu

Banjarbaru, 2000

Kau Tulis Surat

Kau tulis surat

Tapi masih juga kau tanya

Alamatku : Persinggahan

Burungburung laut

Memberi isyarat pantai mana

Gemuruh ombak di bathinku

Lama kubaca tubuhmu di pasir

Setiap ciuman ombak

Kupasang layar ke laut lepas

Kita samasama meniti buih

Sampai terperangkap

Di jaring matahari

Diamdiam masih juga

Kau tulis surat

Di karangkarang laut

Banjarbaru,2000

edisi 5

Rumah Ilalang

Setiap kukatupkan mata di rahimmu

Fosfor di puripurimu

Senantiasa membangkitkan igauan

Dalam kerlip dan dalam gumpalan warna

Sayatan rindu percintaan kebencian

Dari pusar bumi

Dan dalam desis angin

Memanjang gairah luka

Di langitlangitmu tak bertepi

Tak hentihenti kusebut namamu

Kemana katupan mata terbuka

Menyaksikan jemarimu gemetar

Membuka fajar senja

Banjarbaru, 2000

Saat Senja Pun Jatuh

Jangan kau rangkai bungabunga

Yang kau petik dari taman mimpi

Tapi rangkailah tubuhku

Yang kau ambil dari tulang rusukmu

Tak ada lagi

Rahasia yang menyimpan kesangsian

Maka tatkala gemawan turun lihatlah

Kita tak pernah lagi memiliki malam

Yang luput dari tangan

Lihatlah kerinduan yang kau hamili

Setiap kita menutup jendela

Setiap kita mengatupkan mata

Memandang jauh

Kesetiaan mentari ke kutub sana

Banjarbaru, 2000

Ekstase Seorang Pejalan Jauh

Pintalan benang sepanjang kutub

Kau tabur di kakikaki langit

Begitu spektrum di jarijari

Meneteskan narasi beribu kata

tamasya matahari menisik kulit bumi

berwarna jelaga oleh keringat belantara

oleh jilatan lidah beribu burung malam

Masuklah katamu sesampainya di pintu

Ke dalam bilik kaca dimana kita pernah

ziarah setiap pandang mata

Masuklah ke dalam ranjang purba dimana kita

pernah bercinta dan lenyap begitu terjaga

lalu dibakar sunyi

lalu abadi keluhan rindu dendam di sini

Masuklah ke dalam pejaman mata :

Begitu takjub mendengar kokok ayam jantan

mematuki sisasisa malam di kelopak rerumputan

Bulubulu mosaikkukah itu

Kau tersenyum membuka pintu

Banjarbaru, 2000

edisi 6

Syair

Syair siapa yang mengumandangkan sabda alam

Syair siapa yang mengisahkan perjalanan cinta

anakanak Adam

Syair siapa yang melukiskan petanipetani anggur

di tanahtanah padang terbuka

Syair siapa yang meratapi segala bencana

Syair siapa yang mengutuk orangorang yang celaka

Bahkan ya Rabbi

Syair siapa yang membuka segala rahasiaNya

dalam diri kita

Maka perkenankan ya Rabbi

Jangan Kau pisahkan kami

Sebelum sempat memunguti

Liriklirik yang tercecer

Halamandemihalaman yang kami baca

Banjarbaru,2000

Fragmentasi Kembang Ilalang

Duabelasribu kembang ilalang tumbuh

di kepalamu

Suatu nanti bulubulunya meriap seperti

alapalap di sayap angin perubahan musim

Terus

begitu ringannya berbaring di tempat

tidurmu masadepan

Terus

kau pun akan merasakan pejaman mata

tak kau bayangkan nikmatnya nikahan rindu

sebelumnya

Terus

Kau pun akan merasakan diamdiam adanya

kehadiran mimpi yang bangkit dari kuburnya

berabadabad sewaktu samasama penghianat

cinta

Terus

pelanpelan kau ditarik ke beranda rumah

mewedang serbuk matahari sepiala

harapcemas tiap pause menyapa dengan rasa

iba atau belaskasih tetapi

Terus

matamu meneteskan bocahbocah sedang dolanan

acuhtakacuh di hatimu

Terus

tibatiba kau sangat pengen menuruni tangga

dituntun seseorang yang tak pernah kau kenal

lagi dari masasilam

Terus

tak diduga jatuh di sebuah sungai amat deras

Terus

kau saksikan tubuhmu hanyut dan tak berdaya

menyelamatkannya

Terus

terdampar di negeri bangunan batu karaha

beraroma perawan duabelasribu bidadari

bercadarhitam bermatajambon

Ah

Terus

bersayap tipis wirasa menyapu awan

daminatila

Ah

Terus

sudahlah jangan kau panggil lagi namamu

jangan kau harap lagi jawaban tak pasti

mungkin aku telah mati

Astagfirullah

Banjarbaru, 2000

edisi 7

Etam Sayang Gunung

Rangka Kenyah

Rangka Kenyah dangsanak etam

Dangsanak puakapuaka di riamriam

Darahnya getah kayu talikan

Rangka Kenyah cucu Damang Ebbeh

Pemimpin legendaris pegunungan meratus

Mengajarkan pada etam

Bagaimana mencintai alam

Mengharamkan kotoran narkoba

Mengharamkan budaya ngerpe

Dan segala tipu muslihat

Mengingatkan pada etam

Jangan terbuai dengan hasil teknologi

Karena etam hanya bisa membeli dan memakai

Tetapi tidak bisa menciptakannya sendiri

Mengajarkan pada etam

Jangan menyusahkan guruguru etam

Jangan bikin pusing masyarakat lingkungan

Rangka Kenyah

Rangka Kenyah putra Indonesia

telah tuantuan lupakan

Tanahladang Rangka Kenyah

Tuan gusur tanpa belas kasihan

Kemudian tuan buat pemukiman trans

Tanpa beretika sama sekali

Lihatlah tuantuan

Seribu Rangka Kenyah tercampak

Di lembahlembah pengasingan

Duhai berbulu landakkah hati tuan

Rangka Kenyah

Rangka Kenyah putra Indonesia

Tuan tuduh huma berpindah

Sumber malapetaka

padahal hutanhutan beratus tahun

Dibabat habis untuk kekayaan tuantuan

Sehingga seribu Rangka Kenyah terusir

Di padangpadang perburuan

Duhai sarang kabibitakkah jantung tuan

Tuantuan

Lihatlah tuantuan

Rangka Kenyah

Seribu Rangka Kenyah menatap langit

Nyanyian seribu gelisah

Di kakikaki pegunungan meratus

Nyanyian seribu duka

Di puncakpuncak pegunungan meratus

Etam cinta tanahbanyu turuntemurun

Nyalakan damar di uluulu

Bumi menangis diamlah sungai mengalir

Etam batandik di duri rukam

Ambilkan sumpit buluh kuning di gunung ampar

Suruh ikat talimbaran di batu pancur

Apabila pecah bulanai

Jangan dipagat akar kariwaya

Maka pagari ruh dengan tulang etam

Maka pagari ruh dengan darah etam

Tajaki tunggul puaka di riamriam

Dangsanak

Pegunungan meratus inilah

Tumpahdarah etam yang tersisa

Dari titis nenekmoyang

Maka janganlah dangsanak bikin

Eksploitasi kawasan hutan lindung

Karena dangsanak menciptakan wabah anak sima

yang berlidah halimatak

yang melatiklatik di daundaun kehidupan etam

Dan janganlah dangsanak bikin

Pertambangan batubara di tanahbanyu etam

Karena dangsanak menciptakan wabah bumburaya

Yang bertaring babi hutan

Yang mengaduk ladang kehidupan etam

Yang membongkar kubur kehidupan etam

Maka dengarkanlah suara hatinurani etam

Demi Indonesia tercinta

Banjarbaru, 2000

***

Rangka Kenyah : Kepala Suku/Damang

etam : kita/kami

dangsanak : saudara (sapaan)

puaka : demit penunggu hutan

talihan : sejenis ulin

kabibitak : sejenis laba - laba beracun

ulu : daerah atas, daerah hulu

batandik : menari - nari memanggil dewa

talimbaran : tali dari kulit kayu

bulanai : gentong, tajau (tempayan)

dipagat : diputus

kariwaya : sejenis beringin

tajaki : tancapi

riam : sungai menyerupai air terjun

anak sima : hantu bentuknya seperti tuyul

pemakan jantung manusia

malatik : berjalan dengan badan

halimatak : lintah pengisap darah,bentuknya

agak kecil dari pada lintah di air

hidupnyadi hutan lebat

bumburaya : raksasa pemakan mayat